Home About Archive Exit Top
KULIAH : Detil data Lepironia articulata Domin
Senin, 13 Desember 2010 // 04.41

Detil data Lepironia articulata Domin.


















 Spesies :
Lepironia articulata Domin.
Nama Lokal :
purun (Bangka), purun danau (Kalimantan), tekor (Sumatra Selatan).
Deskripsi :
Merupakan herba tahunan, subaquatic, rush-like, tidak berdaun, ber-rhizom, tinggi mencapai 2.5 m, biasanya tumbuh pada kelompok besar. Rhizome merambat secara horisontal, beberapa cm di bawah permukaan lumpur, sekitar 15 cm x 0.5-1 cm, pada awalnya berdaging kemudian menjadi berkayu, banyak ruas, panjang antar ruas sekitar 1 cm, berwarna coklat tua. Batang atau buluh, tersusun dalam satu garis sepanjang rhizome, masing - masing tegak, silindris pipih, 0.4-2.5 m x 2-8 mm, hijau - abu - abu. Daun tereduksi menjadi pelepah tidak berhelai daun, panjang 3-30 cm, pada bagian teratas paling panjang, tepi overlapping, kecoklatan atau kemerahan .Inflorescence terdiri atas satu kelompok mirip tandan, tegak, seperti buluh, panjang involucral bract 2-6 cm long, elipsoid, 1-4 cm x 0.5-1.5 cm, coklat keunguan, banyak bunga; cabang tegak, spongious, berbentuk kerucut, persistent, tersusun spiral, merah - coklat; tiap cyme bunga betina terminal dan berjumlah sekitar 15, kecil, hyaline, hypogynous scales, masing - masing menyokong satu bunga jantan tetapi pada bagian atas biasanya kosong, paling bawah berpasangan berlawanan, terlipat, melanset, 4-6 mm x 0.5 mm; bunga jantan hanya dengan 1 benang sari, anthera linear, panjang 2-3 mm; bunga betina terdiri atas naked pistil, tangkai sari bersambungan dengan ovarium dan berakhir dalam 2 stigma yang panjang. Buah ganda mirip achene, berwarna coklat, gundul tetapi tepi scaberulous pada bagian atasnya..
Distribusi/Penyebaran :
Lepironia articulata terdapat secara diskontinue dari Madagaskar melalui Sri Lanka, China dan Asia Tenggara (Thailand, Indo-China, Semenanjung Malaysia, Sumatra, Bangka, Borneo, Sulawesi, Moluccas, New Guinea) hingga Australia, Pulau Caroline, New Caledonia dan Fiji. Tanaman ini ditanam di Thailand, Sumatra, Borneo, India and China.
Habitat :
Lepironia articulata ditemukan pada air yang dangkal (biasanya kedalaman kurang dari 0.8 m) di lokasi rawa terbuka, padang lumut terbuka, rawa di hutan padang rumput dan sepanjang aliran air yang tenang, biasanya dekat pantai. Tanaman ini tumbuh di oligotrophic, pH air 5.0-6.5. Di Sumatra, terdapat pada ketinggian 1000 m alt, in Semenanjung Malaysia (Terengganu) pada 1200 m dan di Papua New Guinea mencapai 1750 m alt. Lepironia articulata biasanya membentuk komunitas ekstensif.
Perbanyakan :
Di Kalimantan, penanaman Lepironia articulata dilakukanis melalui pemisahan rumpun dengan kedalaman 30 cm. Jarak tanam 30-40 cm, dengan masing-masing kantong berisi 20-30 tunas. Sebelum ditanam, area harus dibersihkan dari gulma, tetapi tidak praktis. Reproduksi alami Lepironia articulata di rawa Tasek Bera terutama secara vegetatif adalah melalu rhizome, dengan tunas baru muncul dari rhizome setiap 51-55 hari.
Manfaat tumbuhan :
Batang Lepironia articulata dibuat menjadi keset, tas dan keranjang, misalnya di Indonesia, Kamboja dan Papua New Guinea, dan menjadi bahan tirai jendela. Di Kalimantan dan Sumatra Selatan, keset yang kuat dan tertutup lengkap digunakan sebagai bungkus, tembakau, karet, kapok, kapas, gula dan produk lainnya, untuk mengeringkan padi dan untuk transport produk makanan seperti beras, garam dan ikan kering. Di China Lepironia articulata digunakan untuk membuat keset. Di Australia rhizome yang masih berdaging dan tebal dimakan oleh suku aborigin.
Sinonim :
Restio articulatus Retz. (1786-1787), Lepironia mucronata L.C. Rich. (1805), Lepironia compressa Boeckeler (1896).
Sumber Prosea :
17: Fibre plants p.170-172 (author(s): Brink, M and Escobin, R.P.)
Kategori :
Serat pakaian
 Source : http://www.proseanet.org/prohati3/browser.php?docsid=408


Kingdom
Plantae – Plants
Subkingdom
Tracheobionta – Vascular plants
Superdivision
Spermatophyta – Seed plants
Division
Magnoliophyta – Flowering plants
Class
Liliopsida – Monocotyledons
Subclass
Order
Family
Cyperaceae – Sedge family
Genus
Species

Label:


-------------


KULIAH : JARINGAN PARENKIM KOLENKIM DAN SKLERENKIM
Rabu, 08 Desember 2010 // 04.10

PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Jaringan adalah sekumpulan sel yang memiliki bentuk dan fungsi sama. Jaringan pada tumbuhan dan hewan berbeda. Sekumpulan jaringan akan membentuk organ. Cabang ilmu biologi yang mempelajari  jaringan adalah histologi. Sedangkan cabang ilmu biologi yang mempelajari jaringan dalam hubungannya dengan penyakit adalah histopatologi. Jaringan pada tubuh tumbuhan  dikelompokkan berdasarkan tempatnya dalam tumbuhan, tipe sel, fungsi, asal-usul, dan tahap perkembangannya.
Berdasarkan jumlah tipe sel penyusunnya, jaringan dibedakan menjadi jaringan sederhana dan jaringan rumit. Jaringan sederhana bersifat homogeny, hanya terdiri atas satu tipe sel sedangkan jaringan rumit bersifat heterogen, terdiri atas dua atau lebih sel. Parenkim, kolenkim,sklerenkim adalah jaringan sederhana, sedangkan xylem, floem,dan epidermis adalah jaringan rumit. Di tahun 1875, Sachs membagi jaringan dalam tiga system berdasarkan kesinambungan topografi yakni system dermal, siste jaringan pembuluh, dan system jaringan dasar. System dermal meliputi epidermis, yakni pelindung primer (pertama) bagi bagian luar tubuh, dan periderm, yang menggantikan epidermis pada tumbuhan yang mengalami pertumbuhan sekunder.. system jaringan pembuluh terdiri dari xylem yakni yang mengangkut air dan garam dalam tanah, dan floem yang mengangkut hasil fotosintesis.
Sistem jaringan dasar mencakup jaringan yang membentuk dasar bagi tumbuhan, namun sekaligus juga dapat menunjukkan spesialisasi. Jaringan dasar utama adalah parenkim dengan semua ragamnya, kolenkim, yakni jaringan yang berdinding tebal dan sel tetap hidup, sklerenkim akni jaringan berdinding tebal dan sering kali berkayu sehingga keras dengan sel yang biasanya mati.
Dalam tubuh tumbuhan, jaringan tersebar dalam pola khas bagi kelompok tumbuhan yang bersangkutan. Pada dasarnya ada kemiripan dalam pola penyebaran jaringan pada tumbuhan dikotil sebab jaringan pembuluh tertanam dalam jaringan dasar dan system dermal merupakan penutup di sebela h luar. Pada tumbuhan dikotil, misalnya jaringan pembuluh batang membentuk silinder berongga. Rongga tersebut terisi ljaringan dasar (empulur) dan ada pula yang berada diantara silinder pembuluh dan system dermal (korteks). Pada daun, jaringan pembuluh membentuk system yang beranastomosis dalam jaringan dasar yang terdiferensiasi sebagai mesofil pada akar dapat ditentukan silinder jaringan pembuluh yang seringkali tidak mengelilingi empulur  (korteks).

1.2  Tujuan
a.       Untuk mengetahui macam-macam jaringan pada tumbuhan
b.      Untuk mengetahui fungsi jaringan pada tumbuhan
c.        Untuk mengetahui posisi/ letak jaringan pada tumbuhan

1.3  Rumusan Masalah
a.       Apa itu jaringan parenkim?
b.      Apa itu jaringan kolenkim?
c.       Apa itu jaringan sklerenkim?
d.      Apa fungsi dari ketiga jaringan?
e.       Dimana letak dan susunan dari ketiga jaringan tersebut?

PEMBAHASAN

2.1 JARINGAN PARENKIM
2.1.1 Pengertian jaringan parenkim
Jaringan parenkim adalah bagian utama system jaringan dasar dan terdapat pada berbagai organ sebagai jaringan yang berkesinambungan karena merupakan penyusun sebagian besar jaringan pada akar, batang, daun, bunga, buah dan biji.  Pada tubuh primer, parenkim berkembang dari meristem dasar. Sedangkan pada tubuh sekunder, berkembang dari kambium pembuluh serta kambium gabus.
Karena merupakan sel hidup, sel-sel parenkim masih dapat membelah meskipun telah dewasa. Oleh sebab itu, sel parenkim berperan penting dalam penyembuhan luka dan regenerasi.
Jaringan ini memiliki cirri-ciri sebagai berikut.
a.       Terdiri dari sel-sel hidup yang berukuran besar dan berdinding tipis.
b.      Bentuk sel parenkim segi enam.
c.       Memiliki banyak vakuola.
d.      Mampu bersifat meristematik.
e.       Memiliki ruang antar sel sehingga letaknya tidak rapat.
Adapun fungsi jaringan parenkim antara lain :
·         Sebagai pengisi tubuh
·         Tempat menyimpan cadangan makanan
·         Parenkim yang berklorofil berfungsi sebagai tempat fotosintesis
2.1.2 Klasifikasi Jaringan Parenkim
Berdasarkan fungsinya, parenkim dibagi menjadi beberapa macam, yaitu sebagai berikut.
a). Klorenkim (Parenkim asimilasi)
adalah sel parenkim yang berisi kloroplas dan berfungsi untuk fotosintesis. Sel ini mempunyai satu vakuola atau lebih, misalnya parenkim palisade pada daun karet
 ( ficus elastica ).
b). parenkim penimbun
adalah sel parenkim yang biasanya berisi leukoplas( cadangan makanan). Sel parenkim ini menyimpan bahan cadangan makanan dalam bentuk partikel padat, atau cairan dalam sitoplasma. Parenkim penimbun biasanya terdapat pada empulur batang, akar, umbi, rimpang, buah, dan endosperm biji. Misalnya, parenkim penimbun pada pisang
( musa paradisiacal ).

c). parenkim air
parenkim air umumnya terdapat pada tubuh tumbuhan yang hidup di daerah kering (xerofit), tumbuhan epifit, dan tumbuhan sukulen. Umumnya, sel berukuran besar, berdinding tipis, lapisan sitoplasmanya tipis, hanya mengandung sedikit kloroplas atau bahkan tidak sama sekali, dan mempunyai vakuola besar yang berisi cairan berlendir.

d). aerenkim (parenkim udara)
aerenkim banyak terdapat pada batang dan daun tumbuhan yang tumbuh di tempat yang mengandung air dan tumbuhan yang habitatnya di air (hidrofit). Jaringan ini berfungsi untuk pertukaran udara. Misal pada eceng gondok ( eichhornia crassipes ).
2.1.3 bentuk dan susunan sel parenkim
            Kebanyakan bentuk sel parenkim bersisi banyak (polyhedral). Sel parenkim memanjang dijumpai dalam jaringan palisade daun dan pada jari-jari empulur. Sel parenkim yang berongga terdapat pada permukaan spons dan parenkim palisade lilium. Sel parenkim membintang ditemukan pada batang tumbuhan yang ruang udaranya berkembang baik, seperti juncus dan scirpus.
            Parenkim dewasa dapat pula tersusun amat rapat selnya seperti pada endosperm atau ditemukan sebagai jaringan dengan ruang antarsel yang luas seperti pada batang. Ruang antarsel terjadi secara sizogen dan lisigen.

2.2 JARINGAN KOLENKIM
2.2.1 Pengertian Jaringan Kolenkim
Merupakan jaringan penyokong  atau penguat pada organ tubuh muda. Kolenkim bersifat plastis dan dapat merenggang secara permanen bersama dengan pertumbuhan organ tempatnya berada. Kolenkim tersusun atas sel-sel hidup dengan protoplasma yang aktif. Sel kolenkim dapat mengandung kloroplas, makin sederhana diferensiasinya makin banyak kloroplasnya, sehingga menyerupai parenkim.
Kolenkim dapat ditemukan pada batang, daun, serta pada bagian bunga dan buah. Biasanya kolenkim terdapat langsung dibawah epidermis.
2.2.2 Struktur dan susunan sel kolenkim
Ukuran dan bentuk sel kolenkim beragam. Sel dapat berupa prisma pendek atau bisa pula panjang seperti serat dengan ujung runcing. Menurut penebalan dindingnya, kolenkim dibedakan atas tiga jenis utama diantaranya:
a.       Kolenkim sudut, dengan penebalan memanjang pada sudut sel. Contoh: pada batang solanum tuberosum dan pada salvia
b.      Kolenkim papan, dengan penebalan terutama pada dinding tangensial. Contoh: pada korteks batang sambucus nigra.
c.       Kolenkim lakuna, yang mirip kkolenkim sudut namun banyak mengandung ruang antarsel. Penebalan dinding terjadi di sekitar ruang antarsel itu. Contoh: pada batang ambrosia.
Dinding kolenkim terdiri dari lapisan yang kaya selulosa dan miskin pektin. 
2.3 JARINGAN SKLERENKIM
2.3.1 Pengertian jaringan sklerenkim
Merupakan jaringan penyokong yang terdapat pada organ tubuh tumbuhan yang telah dewasa. Jaringan sklerenkim tersusun oleh sel-sel mati yang seluruh bagian  dindingnya mengalami penebalan sehingga kuat, sel-selnya lebih kaku daripada sel kolenkim, sel sklerenkim tidak dapat  memanjang.
2.3.2 Macam-macam sel sklerenkim
     a) Sklereid
Terdapat di berbagai tempat dalam tubuh tumbuhan. Sklereid berhimpun menjadi kelompok sel keras diantara sel parenkim di sekelilingnya. Sklereid dapat dibagi empat macam : (1) brakisklereid atau sel batu yang bentuknya hampir isodiametrik, misalnya floem kulit kayu pohon. (2) makrosklereid yang berbentuk batang sering ditemukan dalam kulit biji, misalnya pada leguminosae, (3) osteosklereid yang berbentuk tulang dengan ujung-ujungnya yang membesar kadang-kadang sedikit bercabang. (4) asterosklereid yang bercabang-cabang dan berbentuk bintang sering terdapat pada daun.
      b) serat
Serat terdapat di berbagai tempat dalam tubuh tumbuhan. Serat paling sering ditemukan diantara jaringan pembuluh. Menurut tempatnya dalam tubuh, dibedakan menjadi serat xylem dan ekstra xylem.
Serat xylem merupakan bagian jaringan pembuluh dan berkembang dari prokambium, yakni jaringan yang menghasilkan jaringan pembuluh. Dua macam serat xylem dibedakan berdasarkan tebal dinding dan noktah adalah serat libriform dan serat trakeid.
Serat extra xylem dalam tumbuhan terdapat di luar xylem, misalnya ditemukan dalam korteks atau dalam floem sebagai bagian dari floem. 

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Jaringan dewasa terbagi menjadi tiga jaringan, yaitu jaringan parenkim, kolenkim, dan sklerenkim.
Jaringan parenkim merupakan jaringan dasar dimana selnya masih dapat membelah meskipun telah dewasa. Bentuknya beragam, seringkali bersegi banyak namun bisa juga berupa bintang. Dindingnya primer namun dapat pula sekunder. Fungsinya antara lain dalam fotosintesis, penyimpanan bahan makanan dan penyembuhan luka.
Jaringan kolenkim adalah jaringan hidup, erat hubungannya dengan parenkim, dan terspesialisasi sebagai penyokong dalam organel muda. Bentuk sel berkisar antara bentuk prisma hingga bentuk memanjang.
Jaringan sklerenkim dapat berkembang dalam tubuh tumbuhan primer ataupun sekunder. Fungsinya adalah sebagai penyokong bagian tumbuhan yang telah dewasa. Dindingnya tebal, sekunder, dan sering berlignin, dan pada saat dewasa, protoplasnya bisa hilang.



DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, Estiti B.1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung : ITB.
Mulyani, Sri. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta : Kanisius.
www.e-dukasi.net diakses pada tanggal 4 Oktober 2010 pukul 17.17
www.fp.unud.ac.id/.../anatomi-dan-morfologi-tanaman/  diakses pada tanggal 4 Oktober 2010   
      pukul 17.17
kamuspengetahuan.blogspot.com/.../jaringan-pada-tumbuhan.html diakses pada tanggal
      4 Oktober 2010 pukul 17.17





Label:


-------------


KULIAH : pengamatan 1 : SEL GABUS
Selasa, 07 Desember 2010 // 05.53
pic.1 penampang sayatan melintang (cross section) sel gabus


pic.2 penampang sayatan tangensial (tangensial section) sel gabus



pic.3 penampang sayatan radial (radial section) sel gabus

Label:


-------------


KULIAH : LAPORAN ANTUM : kelompok 1 "MERISTEM"
Senin, 06 Desember 2010 // 23.25
DISUSUN OLEH :KELOMPOK : 1 ( SATU )

1. DWI YANTI ( 06091009001 )
2. SEPTIANI DYTA UTARI ( 06091009003 )
3. TRI WULAN PUSPITA SARI ( 0609100900 )
4. ANGGA NOFRIANSYAH ( 0609100900 )
5. YURIKA NUR’MUSLIMAH ( 0609100900 )

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Tubuh tumbuhan terdiri dari sel-sel. Sel-sel tersebut akan berkumpul membentuk jaringan, jaringan akan berkumpul membentuk organ dan seterusnya sampai membentuk satu tubuh tumbuhan. Jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai asal, struktur dan fungsi yang sama.
Jaringan meristem adalah jaringan yang sel penyusunnya bersifat embrional (terus menerus membelah). Ciri-ciri meristem misalnya bentuk dan ukuran selnya sama, dinding selnya tipis, selnya penuh dengan protoplasma, isi sel tidak mengandung zat makanan, sel muda dan belum mengalami diferensiasi dan spesialisasi, berdinding tipis, protoplasma banyak, vakuola kecil, inti besar, plastida belum matang dan berbentuk sama ke segala arah.
Menurut tempatnya dalam tumbuhan, meristem dibagi menjadi 3, yaitu:
1. Meristem apikal, terdapat pada ujung akara dan ujung batang;
2. Meristem interkalar, terdapat di antara jaringan yang sudah dewasa, misalnya pangkal ruas batang rumput-rumputan.Selain itu, meristem ini mempunyai aktivitas pertumbuhan di daerah jaringan primer yang berasal dari meristem apikal;
3. Meristem lateral, terdapat pada kambium gabus dan cambium pembuluh.


1
Menurut asalnya, jaringan meristem dibedakan menjadi 2, yaitu :
1. Meristem primer terdapat pada tumbuhan yang telah dewasa dan sudah terdapat jaringan yang bersifat meristematik atau embrional, yaitu se-selnya masih membelah. Letak meristem primer ini biasanya terdapat pada ujung akar dan ujung batang yang dapat mengakibatkan tumbuhan dapat tumbuh memanjang.

2. Meristem sekunder merupakan meristem yang berkembang dari jaringan yang telah mengalami diferensiasi dan berfungsi sebagai jaringan dewasa, namun masih dapat melakukan aktivitas sebagai meristem lagi (atau dapat pula dikatakan jaringan meristem yang berasal dari meristem primer). Contoh dari meristem sekunder adalah cambium dan kambium gabus atau felogen, yang merupakan perkembangan dari sel parenkim maupun kolenkim yang telah mengalami diferensiasi.
Diferensiasi adalah perubahan morfologi dan fisiologi menuju spesialisasi yang terjadi didalam sel, jaringan, organ atau seluruh tubuh tumbuhan selama proses perkembangan dari tingkat meristematik ke tingkat dewasa. Diferensiasi disebabkan oleh adanya gen.
Proses diferensiasi merupakan proses ganda karena :
1. Terjadinya perbedaan dengan sel induk
2. Berbeda dengan sel tetangga

1.2 Rumusan Masalah / Permasalahan
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut :

1.3 Tujuan Penulisan
Adapun maksud penyusunan makalah ini ialah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah praktikum anatomi tumbuhan, Selain itu tujuan dari penyusunan makalah ini juga untuk menambah wawasan tentang jaringan-jaringan pada tumbuhan khususnya, jaringan meristem dan diferensiasi.
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah kita dapat mengetahui jaringan-jaringan yang terdapat pada tubuh tumbuh-tumbuhan.


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Dari musim ke musim dari tahun ke tahun, pertumbuhan tumbuhan mengubah lingkungan sekitar kita, pertumbuhan tumbuhan dari sebuah biji adalah suatu pertumbuhan yang sangat menakjubkan. Sebagian besar tumbuhan terus tumbuh selama mereka masih hidup, suatu kondisi yang dikenal sebagai pertumbuhan tidak terbatas (indeterminate growth). Sebagian besar hewan, sebagai pembanding, ditandai oleh pertumbuhan yang terbatas. Yaitu, hewan yang berhenti tumbuh setelah mencapai suatu ukuran tertentu. Smentara tumbuhan yang utuh umumnya memperlihatkan pertumbuhan tidak terbatas, organ tumbuhan tertentu seperti daun dan bunga memperlihatkan pertumbuhan yang terbatas.
Pertumbuhan tidak terbatas tidak mengandung pengertian abadi atau tidak mati. Meskipun mereka terus tumbuh selama hidupnya, tumbuhan tentunya akan mati. Tumbuhan yang dikenal sebagai tumbuhan setahun (annual) menyelesaikan siklus hidupnya dari berkecambah, berbunga dan memproduksi benih hingga mati- dalam waktu setahun atau kurang.
Selama tumbuhan masih mampu untuk bertahan hidup, tumbuhan dapat tumbuh tidak terbatas karena tumbuhan memiliki jaringan embrionik yang selalu tersedia yang disebut meristem, pada daerah pertumbuhan.

1.2 Rumusan Masalah / Permasalahan
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah jaringan meristem itu?
2. Bagaimana proses pematangan jaringan meristem?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun maksud penyusunan makalah ini ialah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah praktikum anatomi tumbuhan, Selain itu tujuan dari penyusunan makalah ini juga untuk menambah wawasan tentang jaringan-jaringan pada tumbuhan khususnya, jaringan meristem dan diferensiasi.



1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah kita dapat mengetahui jaringan-jaringan yang terdapat pada tubuh tumbuh-tumbuhan.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Jaringan Meristem
Telah umum diketahui bahwa salah satu beda yang jelas antara tumbuhan dan binatang ialah pola pertumbuhannya dalam mempertahankan bentuk dewasanya. Binatang tumbuh sampai tubuhnya mencapai tingkat dewasa dan selama masa ini terjadi pertumbuhan pada seluruh tubuhnya. Sebaliknya tumbuhan akan terus tumbuh sampai mati, tetapi segera setelah tingkat embrio dilaluinya, pertumbuhannya terbatas pada bagian tertentu saja yang disebut MERISTEM. Dibagian ini sel-selnya tetap dalam bentuk embrio dan terus membelah diri, sedangkan bagian lain mencapai kematangan dan mempertahankan bentuk tetapnya. Salah satu tipe meristem selalu terdapat di ujung tiap akar dan batang (tunas). Aktivitas meristem ujung seperti itu menghasilkan pemanjangan tubuh tumbuhan dan dalam hal meristem pucuk, akan dihasilkan cabang samping, daun dan bunga. Pertumbuhan yang di awali oleh meristem ujung dikenal sebagai pertumbuhan primer, dan semua jaringan yang terbentuk dari meristem ujung adalah jaringan primer. Pada beberapa tumbuhan, terutama rumput-rumputan, perpanjangan juga disebabkan oleh pembelahan sel-sel meristem yang terletak pada pangkal tiap buku dan pelepah daun. Daerah meristem ini disebut meristem interkalar. Karena meristem ini disisipkan diantara jaringan meristem primer dewasa yang ada diatas dan dibawahnya. Sebenarnya mereka adalah bagian meristem ujung yang terpisah dari bagian utama meristem dan tertinggal ketika ujung itu tumbuh maju. Meristem interkalar dapat tetap aktif, lama setelah sel-sel ruas diatasnya dewasa penuh. Pertumbuhan sel yang dilaksanakan oleh meristem interkalar menyebabkan pemanjangan batang berlangsung cepat dan sering sebelum munculnya bunga. Jaringan-jaringan yang terbentuk oleh meristem interkalar ini serupa dengan jaringan disebelahnya, yang berasal dari meristem ujung, oleh karena itu digolongkan juga ke dalam jaringan primer.
Beberapa tumbuhan terutama monokotil, melengkapi daur hidupnya dengan pertumbuhan primer saja. Pada tumbuhan lain, terutama sebagian besar dikotil, batang dan akarnya mempertebal diri melalui suatu proses yang disebut pertumbuhan sekunder Yang dimulai oleh meristem lateral. Atau kambium. Kambium muncul dari dalam jaringan meristem yang telah ada pada akar dan batang dan membentuk jaringan sekunder pada bidang yang sejajar pada permukaan organ ini. Ada dua kambium yang dapat berkembang pada tumbuhan yang membentuk tumbuhan sekunder, yaitu kambium pembuluh dan felogen ( kambium gabus). Kambium pembuluh berperan dalam penebalan selama pertumbuhan sekunder, sedangkan felogen menghasilkan lapisan pelindung periderm (gabus). Gabus ini terbentuk dibagian luar akar atau batang yang membesar ketika lapisan permukaan primer (epidermis) rusak karena ketebalannya bertambah sebagai aktivitas kambium pembuluh.

2.2 Pertumbuhan Primer
Pertumbuhan primer menghasilkan apa yang disebut tubuh primer tumbuhan (primary plant body). Yang terdiri atas 3 sistem jaringan : jaringan dermal, jaringan pembuluh, dan jaringan dasar.
Gambar 1.3 Pertumbuhan primer pada ujung batang dan akar.

Pertumbuhan Primer, merupakan pertumbuhan yang disebabkan oleh kegiatan titik tumbuh primer. Titik tumbuh primer terdapat pada ujung akar atau ujung batang. Titik tumbuh primer telah mulai terbentuk sejak tumbuhan masih berupa embrio. Ujung akar dan ujung batang tempat terjadinya pertumbuhan merupakan daerah meristem apikal. Pertumbuhan primer menyebabkan batang dan akar bertambah panjang.
Berdasarkan titik tumbuh tumbuhan, terdapat dua teori titik tumbuh pada tumbuhan, yaitu :
1.Teori Histogen
Teori ini dikemukakan oleh Hanstein. Teori ini menyatakan bahwa pertumbuhan organ tubuh tumbuhan dibentuk oleh tiga lapisan pembentuk jaringan, yaitu:
a) Dermatogen, yakni lapisan luar yang membentuk epidermis.
b) Periblem, yakni lapisan dalam yang membentuk korteks.
c) Pleuron, yakni lapisan dalam yang membentuk stele.



2) Teori Tunika Korpus
Teori ini dikemukakan oleh Schmidt yang menyatakan bahwa pertumbuhan organ tubuh tumbuhan yang dibentuk ada dua lapisan pembentuk jaringan, yaitu :
a) Tunika, yakni lapisan luar yang membentuk epidermis dan korteks.
b) Corpus, yakni lapisan dalam yang membentuk stele.
2.3 Pertumbuhan sekunder
Pertumbuhan Sekunder, merupakan pertumbuhan yang disebabkan oleh kegiatan jaringan kambium. Jaringan kambium bersifat meristematik, yaitu sel-selnya selalu aktif membelah. Kambium hanya terdapat pada tumbuhan dikotil dan gymnospermae. Pertumbuhan sekunder menyebabkan diameter batang bertambah besar (Gambar 1.4). Pada tumbuhan dikotil berkayu, pertumbuhan sekunder terjadi karena adanya aktivitas sel-sel meristem diantara xilem dan floem. Xilem dibentuk ke arah dalam dan floem dibentuk ke arah luar. Pertumbuhan di bagian dalam lebih cepat daripada pertumbuhan di bagian luar, sehingga mengakibatkan jaringan epidermis dan korteks pada kulit terluar akan rusak (pecah).


- Mula-mula kambium hanya terdapat pada ikatan pembuluh, yang disebut kambium vasis atau kambium intravasikuler. Fungsinya adalah membentuk xilem dan floem primer.
- Selanjutnya parenkim akar/batang yang terletak di antara ikatan pembuluh, menjadi kambium yang disebut kambium intervasis.
- Kambium intravasis dan intervasis membentuk lingkaran tahun Þ bentuk konsentris.
Kambium yang berada di sebelah dalam jaringan kulit yang berfungsi sebagai pelindung. Terbentuk akibat ketidakseimbangan antara permbentukan xilem dan floem yang lebih cepat dari pertumbuhan kulit.
- ke dalam membentuk feloderm : sel-sel hidup
- ke luar membentuk felem : sel-sel mati


2.4 Pematangan sel-sel meristem
Karena semua sel pada tubuh tumbuhan dewasa merupakan hasil kegiatan meristem, maka akan timbul pertanyaan bagaimana sel meristem itu diubah menjadi sel dewasa. Sifat dasar daerah meristem ialah bahwa daerah ini terdiri atas sel-sel yang aktif membelah diri dan memiliki dua sifat yaitu mempertahankan meristem sebagai bagian yang berbeda dan pada waktu bersamaan menambah sel-sel baru ke bagian tubuh lainnya. Pada setiap meristem ada sel-sel tertentu yang membelah diri sedemikian rupa, sehingga pada tiap pembelahan, salah satu sel anak (pemula) tetap berupa meristem, sedangkan sel anak yang lainnya (derivat) lambat laun keluar dari meristem dan akhirnya menjadi sebuah atau sekelompok sel yang berada di dalam tubuh utama tumbuhan.
Tahap-tahap yang dilalui sel derivat yang baru saja terbentuk itu untuk menjadi sel dewasa dapat lebih mudah diikuti melalui perkembangan meristem ujung daripada meristem lateral.
Sel-sel meristem pada ujung akar dan batang (kecuali meristem lateral) mempunyai penampang kurang lebih persegi, bentuk dasar mereka berupa polihedron berfaset 14 dan masing-masing faset bersegi lima. Bentuk ini merupakan bentuk yang diduga terjadi jika sejumplah bulatan yang sama dan elastik ditekan sama kuat dari segala arah sehingga tak ada lagi ruang udara tersisa diantara bulatan bualatn tersebut. Sel-sel ini berdinding tipis, rongganya berisi sitoplasma pekat dan sebuah nukleus besar (sampai 2/3 diameter sel) serta vakuolanya sudah tidak tampak lagi. Selama pergantian menjadi proses dewasa, sebuah sel derivat akan melalui tiga tahap berbeda, tetapi saling tumpang tindih. Kemampuan membelah diri bukan hanya terbatas pada sel pemula tetapi meluas juga kepada derivat langsungnya, yang biasanya membelah beberapa kali sebelum menjadi dewasa. Tahap pertama pertumbuhan derivat ialah pembelahan sel, yang segera diikuti oleh tahap kedua yaitu pembesaran sel. Karena meristem ujung secara mantap tumbuh maju sebagai akibat pembelahan sel, derivat yang baru saja terbentuk menempati daerah tepat dibelakang ujung itu. Pada daerah yang terletak agak ke ujung (subapikal) inilah, derivat mulai membesar diri dan terus demikian, sampai saatnya menjadi dewasa ukurannya mulai berlipat ganda dibandingkan sel meristem asalnya.
Ketika sel memasuki tahap pembesaran, terbentuklah tetesan cairan sel pada sitoplasma. Setelah memperbesar ukurannya, tetesan-tetesan ini akan saling menggabungkan diri membentuk beberapa vakuola kecil. Sementara itu nukleus masih tetap tergantung-gantung oleh helaian sitoplasma di tengah sel. Vakuola-vakuola terus memperbesar diri dengan cara mengambil air dan akhirnya bersatu menjadi sebuah vakuola sentral. Akibatnya nukleus bergerak kebagian tepi pada lapisan tipis sitoplasma yang melapisi sel. Walau vakuola membesar, seluruh sel memperbesar diri. Tetapi biarpun permukaan diperluas, dinding sel itu tidak menipis, sebab bahan dinding yang baru selalu ditambahkan pada dinding asal. Jadi pembesaran sel itu bukan hanya proses mengembangnya sel karena pembentukan vakuola, tetapi juga merupakan proses aktif penambahan sejumlah bahan tumbuhan sebagai hasil aktivitas biokimia intensif dalam sel.

Pada proses pencapaian bentuk dewasa, sel bukan hanya bertambah besar, tetapi juga strukturnya menjadi lebih termodifikasi untuk memenuhi fungsi fisiologi tertentu pada tumbuhan dewasa, modifikasi untuk memiliki fungsi tertentu ini disebut sebagai DIFERENSIASI dan merupakan tahap ketiga atau terakhir pada pematangan sel meristem. Diferensiasi dimulai sejak sel masih memperbesar diri. Tetapi baru akan berakhir setelah sel itu berhenti membesar. Hal ini dapat dianggap sebagai suatu proses yang menjadikan sel berbeda-beda, bukan hanya dengan prekursor meristemnya, melainkan juga dengan se-sel tetangga terdekatnya. Besar kecilnya diferensiasi sebuah sel bergantung pada fungsi akhir sel tersebut. Beberapa buah sel hanya berbeda sedikit dengan sel meristemnya (misal sel pembungkus). Sedangkan sel-sel lain sangat berbeda (misalnya sel penghantar yang memanjang). Banyak cara yang ditempuh oleh sel itu dalam berdiferensiasi agar dapat melaksanakan fungsi khususnya akan tetapi cara yang utama adalah modifikasi dinding sel. Modifikasi ini menyangkut beberapa ciri, seperti pembentukan dinding sekunder yang tebal dan pengembangan berbagai tipe noktah.




BAB III
KESIMPULAN

Tubuh tumbuhan terdiri dari sel-sel. Sel-sel tersebut akan berkumpul membentuk jaringan, jaringan akan berkumpul membentuk organ dan seterusnya sampai membentuk satu tubuh tumbuhan. Jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai asal, struktur dan fungsi yang sama.
Jaringan meristem adalah jaringan yang sel penyusunnya bersifat embrional (terus menerus membelah). Ciri-ciri meristem misalnya bentuk dan ukuran selnya sama, dinding selnya tipis, selnya penuh dengan protoplasma, isi sel tidak mengandung zat makanan, sel muda dan belum mengalami diferensiasi dan spesialisasi, berdinding tipis, protoplasma banyak, vakuola kecil, inti besar, plastida belum matang dan berbentuk sama ke segala arah.
Menurut tempatnya dalam tumbuhan, meristem dibagi menjadi 3, yaitu:
1. Meristem apikal, terdapat pada ujung akara dan ujung batang;
2. Meristem interkalar, terdapat di antara jaringan yang sudah dewasa, misalnya pangkal ruas batang rumput-rumputan.Selain itu, meristem ini mempunyai aktivitas pertumbuhan di daerah jaringan primer yang berasal dari meristem apikal;
3. Meristem lateral, terdapat pada kambium gabus dan cambium pembuluh.

Menurut asalnya, jaringan meristem dibedakan menjadi 2, yaitu :
1. Meristem primer terdapat pada tumbuhan yang telah dewasa dan sudah terdapat jaringan yang bersifat meristematik atau embrional, yaitu se-selnya masih membelah. Letak meristem primer ini biasanya terdapat pada ujung akar dan ujung batang yang dapat mengakibatkan tumbuhan dapat tumbuh memanjang.

2. Meristem sekunder merupakan meristem yang berkembang dari jaringan yang telah mengalami diferensiasi dan berfungsi sebagai jaringan dewasa, namun masih dapat melakukan aktivitas sebagai meristem lagi (atau dapat pula dikatakan jaringan meristem yang berasal dari meristem primer). Contoh dari meristem sekunder adalah cambium dan kambium gabus atau felogen, yang merupakan perkembangan dari sel parenkim maupun kolenkim yang telah mengalami diferensiasi.
Diferensiasi adalah perubahan morfologi dan fisiologi menuju spesialisasi yang terjadi didalam sel, jaringan, organ atau seluruh tubuh tumbuhan selama proses perkembangan dari tingkat meristematik ke tingkat dewasa. Diferensiasi disebabkan oleh adanya gen.

DAFTAR PUSTAKA
http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/0050%20Bio%202-2b.htm
http://www.e-dukasi.net/mapok/mp_full.php?id=303&fname=materi03.html
http://ezy_yugo.110mb.com/pertumbuhan%20dan%20perkembangan%20pada%20tumbuhan.htm
http://ratihkuspriyadani.blogspot.com/2010/05/jaringan-meristem.html
http://www.authorstream.com/Presentation/danuy-401036-pengertian-dan-macam-jaringan-tumbuhan-struktur-fungsi
http://marskrip.blogspot.com/2009/12/jaringan-pada-tumbuhan-.html
http://4ld1.wordpress.com/2008/12/06/macam-jaringan-tumbuhan/
http://www.blackdumai.co.cc/2010/07/struktur-dan-fungsi-jaringan-tumbuhan.html
http://jyan-ekopujianto.blogspot.com/2009/10/jaringan-pada-tumbuhan.html
http://artofgreen.wordpress.com/2010/03/15/anatomi-tumbuhan/
http://file.upi.edu/Direktori/D%20%20FPMIPA/JUR.%20PEND.%20BIOLOGI/196607161991011%20-%20AMPRASTO/bahan%20kuliah/e-learningantum/meristem%20(3).pdf
sri mulyani anatomi tumbuhan penerbit kanisius Jogjakarta 2006

Label:


-------------